Rabu, 30 Desember 2015

    Mimin Web

    12 Kiat Cara Hidup Bahagia...

    Melakukan evaluasi diri adalah salah satu cara untuk menyiasati berbagai permasalahan dalam hidup kita, agar kita dapat hidup bahagia. Coba perhatikan sekeliling Anda, apakah Anda sudah melupakan hal-hal yang dulu membuat Anda bahagia. Telusuri satu persatu hal yang mampu membangkitkan semangat hidup Anda kembali!

    Di bawah ini adalah 12 rahasia untuk hidup bahagia:

    1. Ubah Situasi. Hidup itu penuh pilihan. Jika Anda merasa mentok menghadapi suatu masalah, jangan langsung memvisualisasikan 'jalan buntu' di depan Anda. Segera ubah situasi. Cari cara untuk dapatkan solusinya. Misalnya, jika beban kerja Anda rasakan sudah melewati batas, cobalah mencari kemungkinan untuk mendelegasikan sebagian pekerjaan Anda kepada orang lain

    2. Jangan bosan belajar, membuat perubahan dan meminta maaf. Anda tidak pernah terlalu tua untuk berbuat baik. Ingatlah, jika hari ini Anda berbuat baik, Anda akan mendapatkan imbalannya di lain hari. Setiap hari berarti! .

    3. Terima apa yang tidak bisa diubah. Stres bisa terjadi setiap saat. Misalnya, ketika sedang melakukan pekerjaan menumpuk dan dikejar waktu, tiba-tiba lampu padam, dan komputer tidak bisa digunakan. Dari pada meratapi masalah, lebih baik Anda menerima apa yang terjadi serta berpikir positif bahwa suatu saat lampu akan hidup kembali. Gunakan waktu tersebut untuk beristirahat, misalnya. Rasa panik hanya akan menuntun Anda ke arah stress yang berkebihan.

    4. Cara Anda mengelola stres menentukan kualitas hidup Anda. Coba ikuti kegiatan sosial. Penelitian mengungkapkan bahwa menjadi relawan memberi manfaat yang sangat besar bagi ketenangan jiwa seseorang.

    5. Manjakan diri. Stres memiliki 'kontribusi' yang cukup besar dalam kondisi kesehatan seseorang. Siasati stres dengan memberikan 'jeda' pada aktivitas harian Anda. Mulailah memanjakan diri, dengan melakukan relaksasi untuk menenangkan pikiran. Hargai dan perhatikan diri Anda.

    6. Lenyapkan rasa cemas. Kadangkala, kita sering mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Padahal, mungkin saja 80% dari apa yang Anda cemaskan belum tentu terjadi. Jadi, jangan teralu cepat meramal sesuatu hal buruk akan terjadi pada Anda. Bebaskan pikiran kita dari kecemasan yang tak beralasan!

    7. Ungkapkan kebahagiaan Anda. Biasakan berbicara dengan kata-kata yang membangkitkan rasa gembira dan sikap positif. Kata-kata bisa mempengaruhi emosi dan sikap Anda, sehingga situasi ini bisa memacu semangat Anda.

    8. Satu senyuman membuat hidup Anda bersemangat. Jadi tersenyumlah. Orang lain yang melihat Anda, pasti akan ikut bahagia.

    9.Rasa cinta itu menyembuhkan. Tebarkan kasih sayang Anda ke semua orang yang Anda cintai. Bina huhungan dengan orang-orang terdekat yang dapat membuat Anda bahagia. Rasa bahagia itu menular. Maka carilah orang-orang yang bisa menularkan rasa bahagia itu kepada Anda.

    10.Yakin pada diri sendiri. Berhenti berharap pada orang lain. Kebahagiaan tidak bergantung pada orang lain, tetapi ada dalam diri Anda sendiri.

    11. Realisasikan impian Anda. Mimpi adalah faktor pemicu yang bisa menjadi titik awal dari masa depan yang lebih cerah dan bahagia!Banyak orang sukses yang memulai usahanya dengan mimpi yang besar!

    12. Asah spiritualitas. Banyaklah berdoa dan mendekatkan diri pada Tuhan untuk menjernihkan pikiran Anda.


    Sumber: sudah Lupa 
    Mimin Web

    Tentang Alay...

    Foto: Google
    Dalam buku JK Rowling yang terbaru, ALAY POTTER AND TULISAN DEWA YANG ANEH, alay dibagi menjadi 4 strata:

    1. ALAY PEMULA (ALAY BEGINNER)>>>>
    Alay tahapan pemula adalah alay-alay yang baru mencoba-coba untuk menjadi alay. Biasanya adalah para ABG-ABG labil yang masuk tahapan ini. Alay seperti ini biasanya adalah alay-alay yang sok imut atau mereka-mereka yang mulai menambahkan atau mengganti beberapa huruf yang wajar menjadi huruf yang agak ribet dan ruwet. Contoh: “seNank dech haTi sAaiia.. taDi paGi dianTeRin aMa paCaL duNd.. tapi biNund juGa, tumbEn yaCh paCaL ku saAiianK maO anTeL??” Biasanya, dalam tahapan ini seorang alay belum benar-benar menjadi alay. Mereka baru dalam tahap mencoba-coba untuk menjadi seorang alay.

    2. ALAY MENENGAH (ALAY INTERMEDIATE)>>>>
    Alay menengah nggak jauh beda dengan alay pemula. Bedanya, pada tahapan ini biasanya para alay mulai menggunakan tambahan huruf-huruf di suatu kata yang lebih ekstrim dan makin ribet dibaca. Dan dalam tahapan ini, biasanya para alay juga udah menetapkan dan memantapkan pilihan hidup mereka untuk menjadi seorang alay (lebay). Contoh: “hErandTh juJJa.. kOgh, cAaiiaa gUgh iCa nGwerJaiNth sOaL mTemaTikha yUaaccH..? kaTa paCaLd, aaiiOO sEmaNgadTh beLaJard.. bIaL piNteRd..”

    3. ALAY TINGKAT ATAS (HIGH LEVEL OF ALAY)
    Alay tingkat atas biasanya selalu menggunakan bahasa-bahasa yang saya bahas sebelumnya, dengan juga menggabungkan angka untuk mengganti beberapa huruf. Contoh: “DucH Gw4 5aiianK b6t s4ma Lo..7aNgaN tin69aLin akYu ya B3ibh”.Alay seperti ini berpotensi untuk masuk tahapan kelima, tahapan yang paling diidam-idamkan oleh para alay. Dan merupakan kasta tertinggi dalam strata alay ini.

    4. RAJA DARI SEGALA RAJA ALAY (KING OF ALAY)
    Inilah raja dari segala raja alay. Alay yang selalu diagung-agungkan oleh para alay. Alay yang selalu menjadi panutan. Alay yang merupakan pemimpin tertinggi dari para alay. Alay tahap ini merupakan alay sejati, yang persentase ke-alay-annya udah nggak diragukan lagi. Mereka-mereka yang termasuk dalam alay tahap ini biasanya telah menemukan jati dirinya sebagai alay sejati. Setelah sekain lama mencari jati diri (jadi tukang odong-odong nggak cocok, jadi dokter nggak bisa) akhirnya mereka menemukan juga jati diri yang sebenarnya : MENJADI ALAY. Alay tahap ini dalam sehari-hari selalu meggunakan bahasa alay kebanggaannya, dan malah mulai menambahkan tanda seru untuk mengganti huruf “i”. Contoh: “hErandTh s4iiA m4 bH5a aLLa!! ii4nK an3H bIn nGaCo, Pi mAsEEch bNya6h aJj4 i!Ank m4k3.. p4kE iiAnK n0rMaLd Jj4 dUmMzz.. bH4sa gN!! m4h b!kiNdTh paLa pUs!inK dUaMzZ..”

    Sumber; tidak ingat Lagi...

    Senin, 28 Desember 2015

    Mimin Web

    Zi, Penghuni Gang Kelinci

    Tiada hujan tiada angin, hujan deras mengguyur kota Banda Aceh. Kutengok jam dinding, ”mmm... pukul delapan tepat,” baca hatiku menyepakati mata. Tok, tok, tok, pintu kamarku diketuk orang. Pasti Tina, teman yang menempati kamar sebelah. ”Enggak jadi keluarlah kita, hujan!,” teriaknya nyaring , menyaingi bunyi hujan yang mendentingi atap seng rumah pondokanku. Aku menuju pintu, membukanya sedikit, sekedar bisa melongokkan kepala. ”Baiklah, batal,”. Tina tampak cantik dengan tata rambut barunya. Warnanya pas sekali  dengan warna kulit kuning langsatnya. Dengan langkah gontai, ia berlalu dari hadapanku.

    Aku mengganti baju, menyetel kaset Siti Nurhaliza. Lalu, kuputuskan untuk tidur-tiduran saja. Sebelumnya aku telah melayangkan pesan singkat (SMS) ke Dany, teman terdekatku,  memberitahukan  bahwa acara kumpul-kumpulnya batal.

    Bermula dari boneka
    Ingatanku melayang ke kampung halaman di Lhokseumawe yang sudah kutinggalkan sejak November 2004. Berkelebat bebayang masa lalu yang tertinggal pada tetanah basah, halaman rumah, gedung sekolah, hiruk pikuk kota, lalu lalang manusia di jalan, sebagian bibir-bibir pantai tempat aku berlarian bersama teman-teman sewaktu hujan. Semuanya hadir di benak ingatan, serempak.

    “Rul, boneka dan mainan masak-masakannya  disimpan dulu ya,” ibuku mengingatkan ketika dilihatnya aku hendak berlari ke luar memenuhi panggilan si Man, Pi’i dan  Dolah. Aku acuh, terus saja keluar. Dalam hati aku berkata, ibu saja yang membereskan. Sudah adatnya, setiapkali aku meninggalkan mainan-mainanku berantakan, ketika pulang, telah  dirapikan, dimasukkan kembali ke dalam keranjang. Ibu selalu membuatku merasa nyaman bahkan untuk kesalahan yang aku lakukan.

    Saudara-saudaraku kerap keberatan kalau aku diperlakukan begitu manja. Bisa jadi karena aku bungsu dari lima bersaudara. Meski tidak terima, sebenarnya mereka sayang padaku, aku bisa merasakannya. Abang tertuaku, walaupun sudah berkeluarga, masih tetap memperhatikanku, Lebih-lebih ketika aku menempuh Sekolah Menengah Keterampilan Keluarga (SMKK), dialah yang membantu biaya pendidikanku. Dua kakakku apalagi, mereka sering membelikan baju, memberi jajan dan mengajak jalan-jalan tanpa rasa malu karena perbedaan. Abang yang persis di ataskupun sama, walau  caranya berbeda. Bagiku, alasan mengapa mereka menyayangiku, bukanlah sesuatu yang penting untuk diketahui, yang kubutuhkan mereka menerima dan menyayangiku apa adanya. Kuharap, lingkungankupun begitu pula adanya.

    Menginjak remaja
    Firdaus. Nama itu terukir indah di benakku, tak mungkin kulupakan. Dialah yang membelaku dari ejekan teman-teman, ketika karena kelembutan, aku dijadikan bulan-bulanan para cowok, teman satu sekolahku di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dalam memoriku, ia hadir sebagai sosok yang baik, tulus dan penuh kasih.

    Aku sangat menikmati waktu-waktu ketika bersamanya karena merasa dilindungi, diperhatikan dan dihargai. Singkatnya, dengannya aku merasa nyaman. Sesuatu yang kubutuhkan, selain dari keluarga. Sayangnya semua harus berakhir ketika masa akhir tahun ajaran tiba. Firdaus lulus dan akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Sedangkan aku masih duduk di kelas dua SMP.

    Kekhawatiran menghiasi pikiran. Tentu karena aku merasa ngeri, kembali sendirian di lingkungan yang menganggap aku kurang normal. Aku sempat kehilangan arah, namun aku terus berusaha menerima keadaan diriku, bertahan. Berkat dukungan keluarga dan beberapa tetangga yang memahami, perlahan, aku bisa menanamkan kesadaran bahwa aku memang begini adanya. Aku lembut. Aku lebih menyukai hal-hal yang lazim digemari kaum hawa.

    Dengan kesadaran itu, aku memilih melanjutkan pendidikan di sekolah kejuruan. SMKK menjadi pilihan. Aku memilih jurusan salon dan kecantikan. Dengan keahlian yang aku miliki, aku ingin bisa membiayai hidup dan membantu orangtua. Aku ingin berguna bagi mereka. Aku tidak menyesali pilihan itu. Aku mendapati duniaku di sana.

    Impian tentang mudahnya mendapat  pekerjaan menjadikanku kian bersemangat meniti masa depan. ”Ah, kalaupun nanti sulit memperoleh pekerjaan, aku toh masih bisa coba jual jasa dengan keahlian yang aku punyai, atau kalau ada modal, aku bisa membuka salon walau kecil-kecilan”gumamku dalam hati.

    2003, aku lulus dari SMKK. Menjelang masa untuk bekerja. Tanpa lika-liku yang panjang, aku mendapatkan pekerjaan. Duniaku kini jadi kian sempurna. Di salon tempat aku bekerja untuk pertama kalinya, aku mendapatkan teman-teman yang nasibnya sama, terusir dari lingkungan yang berpikir mereka tidak ada cacatnya.

    ”Rul, kita-kita kan punya nama gaul ni?, kamu masak masih dipanggil Rul atau Syahrul?”. Kenes, Nola melontarkan usulnya. ”Iya...”, Neta menimpali enggak kalah kenesnya. Tangan keduanya tak henti mempermainkan rambut merah terang mereka. Melihat itu, aku seperti bercermin, ”seperti itukah aku juga”, gumam hatiku bertanya. Masih saja ada sisi hati yang tidak rela, tapi aku memang seperti mereka.

    ”Rul, tidak apa-apa kamu lembut, penuh perasaan, tapi ibu tidak mau kamu ikut-ikutan memanjangkan rambut, pakai baju perempuan dan bersolek menor seperti teman-teman kerjamu, apalagi suntik silikon, ibu mohon jangan lakukan itu”, aku terngiyang penerimaan bersyarat ibuku pada suatu petang. ”Hei, kok malah melamun sih?”,  Nola mengibaskan tangannya di depan mataku yang lurus memandang. Aku menarik nafas dalam-dalam, ”Kita panggil kamu Zi aja ya?”, serbu Neta. Entah, aku menerima saja usulan mereka. Jadilah sejak itu aku dikenal dengan nama baru itu, ”Zi”, keren juga pikirku.

     Menghuni Gang Kelinci
    Aku merasakan kejenuhan yang tak terbendung. Keinginan mendapatkan lingkungan yang lebih mendukungku merajai hati. Hari demi hari, harapan untuk menentang hidup kian menguasai seluruh pikiran. ”Ke Medan saja”, perintah otakku, ”Ke Banda Aceh saja”, bisik hatiku. Ah, aku gundah, bingung mau mengikuti yang mana.

    Keluarga tidak menyetujui kalau aku ke Medan tapi membolehkan aku ke Banda Aceh. Kenyataan itulah yang akhirnya membantuku dalam pengambilan keputusan. Tanpa Nola dan Neta, aku berangkat ke ibu kota propinsi tercinta. Sepanjang perjalanan, walau dengan keraguan yang tak dapat kusembunyikan, aku menyemai harapan bahwa aku akan mendapat pekerjaan, teman-teman baru dan juga lingkungan baru yang mendukung keberadaan orang sepertiku.

    Menumpang di rumah saudara jauh, aku mulai menyusuri kota Banda Aceh. Dengan mudah dan dalam waktu yang singkat aku mendapat pekerjaan di sebuah salon kecantikan yang cukup terkenal. Kenyataan itu mengajariku untuk senantiasa bersyukur dan yakin bahwa Tuhan memang maha pengasih-penyayang. Banyangan yang kubangun semula bahwa sebagai ibu kota propinsi, lebih ramah daripada kota kelahiranku, sepertinya terbukti sudah. Dan, aku bahagia.

    Kenyataan bahwa perbedaan penampilan menjadi sesuatu yang dibicarakan memang selalu ada. Begitupun di lingkungan tempat tinggalku sekarang. Sebenarnya aku sudah bisa terima itu sebagai sebuah kebiasaan yang biasa-biasa saja. Ya, aku sudah tidak lagi terluka ketika ada suitan nakal dari para bujang atau diikuti rombongan anak-anak kecil yang riang. Mungkin itu sebuah penerimaan diri yang utuh atau sebuah kepasrahan yang terbentuk karena kelelahan yang dalam. Ah, aku tak tahu pasti. Yang kutahu, aku tidak boleh menjadi penyebab saudara jauhkuyang telah memberi aku tumpangan tempat tinggal menjadi terbebani. Dengan alasan aku ingin mandiri, aku memberitahu bahwa aku ingin pindah saja.

    Gang Kelinci, Kuta Alam. Itu domisili yang kemudian menjadi pilihan. Di sana, aku dan teman-teman yang umumnya bekerja di salon kecantikan mengisi waktu-waktu istirahat dari kelelahan bekerja, dari kelehan rasa karena dianggap berbeda. Di komunitas itu aku merasa aman dari gangguan, dan yang lebih penting, tidak mengganggu orang lain.

    Komunitasku memilihnya Gang Kelinci karena terletak di tengah-tengah kota, tempat kami bisa berkreasi dan berekspresi lebih terbuka. Terkadang, ketidakpedulian warga kota menghadirkan kenyamanan terhadap perbedaan yang ada. Dan, tsunami Desember 2004 pun tak merubah pilihan untuk tetap bertahan tinggal di sana.

    Si Tersisih di Negeri Syari’ah
    Tok, tok, tok, “Zi,  buka pintunya.” Teriakan Dany seperti mengembalikanku dari masa lalu, ”cepat, buka.” Dany menyempurnakan seruannya. Tanpa ba bi bu dan tergopoh-gopoh tak sabar, ”Lince sama Lisa dijambret, HP Lince berhasil direbut mereka.”.   Dany nyerocos. ”Lince dan Lina sekarang ada di mana?,” sergahku ikut-ikutan tergopoh. ”Itu, di depan gang. Mereka masih di sana,” tukas Dany. Kuraih jaketku yang tergantung di belakang pintu, aku dan Dany segera keluar. Di depan pintu, tampaknya, hujan telah menyisakan rintik gerimis saja. ”Wisataku, ke masa lalu” barusan, agaknya menjadikanku tak menyadari bahwa hujan sedang akan berhenti. Dan, pasti Siti Nurhalizapun sudah menyudahi bernyanyi.

    ”Bagaimana ini? Kita mesti melakukan apa?,” denga sedih, Lince bertanya. Hening, tidak ada yang bicara. ”Ok, kita lapor polisi saja,” usulku memecah keheningan. Dany, Lince dan Lisa saling berpandangan. Aku membaca keraguan di mata mereka. ”Ayo, cepatan!.” Tanpa berkata apa-apa mereka mengikuti langkahku ke arah kantor Kepolisian Resort (Polres) Banda Aceh yang letaknya hanya dua ratus meter saja dari gang kelinci. Tak ada yang bicara. Entah apa yang mereka pikirkan. Apakah sama dengan apa yang aku khawatirkan, bahwa laporan kami hanya akan terhenti sebagai sebuah laporan dan kemudian tak dihitung dalam urutan kasus yang akan diselesaikan?.

    Kami mengumpulkan seluruh keberanian yang dipunyai. Seperti berhitung satu-dua-tiga, langkah kami serentak menuju pos jaga. Dua orang pemuda tegap, ganteng dan berseragam polisi menyambut kehadiran kami. Pada awalnya mereka ramah-ramah saja. Namun segera seiring waktu, keaslian karakter yang sudah melembaga keluar juga. Mereka mulai menggoda kami dengan pertanyaan nakal mereka. Dan, kalau dalam keadaan biasa, kami akan merasa tergoda. Tapi kenyataannya sekarang tak sama, kami semakin merasakan diperlakukan berbeda.

    Dalam keadaan tertekan, kami menyelesaikan laporan. Sedangkan teman-temanku sudahpun kehilangan kata-kata, karena lunglai oleh pelecehan-pelecehan yang keluar dari ujaran para pengayom rakyat. ”Mereka tidak pantas menjadi aparat negara,” jerit batinku di kedalaman luka. Selalu seperti itu, kami tak merdeka. Ekspresiku terhenti  di batas hati atau paling hebat hanya tersekat di kerongkongan belaka.

    Gerimis sudah berlalu. Langit beranjak remang, meninggalkan gelap yang menginringi hujan. Dengan langkah gontai, aku dan teman-teman yang terpinggirkan dari kehidupan, melangkah pulang. Di komunitas Gang Kelinci, kami berharap memperoleh perhatian, kenyamanan yang saat ini betul-betul kami  dambakan.

    Benar saja, lebih dari sepuluh teman, sudah berkumpul di kosku. Ditemani Tini, mereka menunggu kepulangan kami, menanti cerita tentang perjuangan untuk,  mendapatkan hak sebagai warga masyarakat. Tiba-tiba ada rasa kagum dan bangga membuncah di hatiku   –barangkali demikian pula di benak Lince, Lisa dan Dany. Dalam keadaan yang dianggap berbeda dan dengan kekurangan yang ada, kami masih miliki rasa cinta dan kepedulian sosial.Cinta kami tersebut bukan hanya di antara kami yang terpinggirkan, melainkan juga  terhadap sesama makhluk tuhan.

    Aku masuk ke dalam, kubiarkan Lince, Lisa dan Dany saja yang akan menceritakan pelaporan kami ke Polres dan hasilnya. Seperti baru berlari puluhan kilometer, rasa lelah mendera, tidak hanya pada raga, melainkan juga jiwa. Tubuh kurebahkan di ranjang lajang yang berantakan. Rasanya, aku ingin sejenak berhenti berpikir bahwa aku dan komunitasku berbeda. Kami telah terpinggirkan dari kehidupan yang dianggap normal dan  didiskriminasikan dalam aturan-aturan. Tapi, mana berdaya kami. Tetap saja peristiwa-peristiwa yang terjadi padaku, dan juga teman-temanku menyetiai perjalanan. Saling merangkai, hingga  berkelin-kelindan dan susah terurai.

    Untuk ke kesekian kalinya, jam dinding kamarku, kulirik. Jarum panjangnya tepat di atas jam sembilan, jarum pendeknya sedikit melewati angka sepuluh. Malam masih panjang. Besok masih akan datang. Kehidupan harus diteruskan. Sedangkan aku dan teman-temanku rasa-rasanya terlalu lelah sudah. Kemarin, dua temanku ditangkap polisi syari’ah yang berpatroli menyisir kota. Syila yang sedang menyelesaikan penyisiran rambut pelanggan salon yang baru saja selesai direbonding, kaget dan terkejut. Sampai-sampai sisir di tangannya terlepas. menggelinding, tergeletak, tak bisa berbuat apa-apa. Seisi salon menjadi hiruk pikuk, yang kebetulan atau sengaja berada di sana berlarian, ketakutan.

    Maya, teman Syila yang sedang mendengarkan musik dari walkman, tak mendengar kegaduhan itu. Al hasil, dia turut terjaring, bukan oleh jaring melainkan oleh aturan. Maya tak bisa berbuat apa-apa, tak berdaya. Bak pasangan  raja diraja yang dirayakan pernikahannya, diaraklah mereka keliling kota.

    Pada gemuruh yang tak mampu tertahan lagi, aku mendendam pada manusia yang merasa dirinya seakan-akan telah menjadi Tuhan. Tuhan saja tidak begitu, pikirku. Ironisnya, di negeriku sendiri, aku merasa amat terzalimi. Piluku menyayat. Aku menggugat, dengan cara berpikir macam apa sih, orang-orang yang menganggap diri mereka normal itu mengenali Tuhannya? Apakah Tuhan  itu kejam, atau sebaliknya, penuh kasih sayang?.

    Jujur saja, jauh di lubuk hati, aku sungguh takut untuk mempertaruhkan keyakinanku. Aku ingin melawan pandangan dan kesimpulan manusia-manusia yang disusun-pancangkan  sebagai hukum yang laksana wahyu. Semoga bukan lantaran sebagai warga Gang Kelinci saja, sehingga kami merasa seperti para kelinci percobaan yang mudah dipermain-mainkan d inegeri ini. Tak berbeda dengan Maya-maya yang lain, aku, Zi, ditengah negeri yang berqanun syari’ah ini, tetap saja adalah si lemah, tersisih dan terpinggirkan. Kami teronggok, tiada berdaya.

    Dan, tatkala malam beranjak menepi, kerapkali aku mengadu kepada-Nya.

    Tuhan, aku tak pernah dan tak kuasa memilih menjadi yang sekarang ini. Kaulah yang kuasa memutuskan-Nya. Jadi, tolong yakinkan padaku, apakah saat ini aku sedang hidup di alam mimpi? Kalau tidak, kehidupan macam inikah yang layak disebut sebagai sebuah kenyataan?

    Penulis : Rukyiah Hanum

    Jumat, 25 Desember 2015

    Mimin Web

    Selangkah Lagi Selingkuh...

    Selingkuh semakin populer! Berbagai lagu merayakan selingkuhan dengan berbagai istilah dari  “Sephia”, “Kekasih gelap”, “Kekasih rahasia” hingga “Teman tapi mesra” dan RBT-nya pun laku berjuta-juta. Peselingkuh pun bagaikan siluman yang mampu menjelma “Buaya darat”, “Kucing garong”, atau “Keong racun.” Meskipun ada juga yang mengakui bahwa “Tak selamanya selingkuh itu indah,” tapi toh tetap saja selingkuh. Dalam dunia sastra, ada kumpulan cerpen berjudul “Kamu sadar aku punya alasan untuk selingkuh kan Sayang?” Televisi juga mengabarkan beragam berita perselingkuhan yang dilakukan pejabat, artis, tukang sayur & pekerja domestik, aktivis, dosen, dan agamawan. Apakah ini berarti angka perselingkuhan di Indonesia meningkat? Biro Pusat Statistik mungkin perlu menambahkan item pertanyaan tentang selingkuh dalam Sensus Keluarga Nasional mendatang.

    Lalu, apakah selingkuh itu?  Secara sederhana, seseorang  yang telah menikah berselingkuh ketika ia menjalin hubungan romantis dan atau seksual di luar pernikahannya.  Mengapa pasangan yang sudah menikah berselingkuh? Penelitian terhadap 2870 responden di Amerika menunjukkan bahwa perselingkuhan adalah hasil interaksi antara nilai dan kebutuhan peselingkuh, kualitas pernikahan peselingkuh, dan adanya kesempatan berselingkuh (Treas & Giesen, 2000).

    Nilai dan kebutuhan peselingkuh. Desakan biologis serta kebutuhan terhadap kedekatan emosional, cinta, dan peningkatan ego sering kali mendorong perselingkuhan. Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang memiliki minat seksual lebih besar dan memandang hubungan seksual ekstra marital bukanlah sesuatu yang salah cenderung lebih mudah untuk berselingkuh. Bagi sebagian peselingkuh, perselingkuhan terjadi bukan karena semata-mata karena “hasil perselingkuhan”’ tapi juga “proses perselingkuhan” yang menantang. Seseorang berkata, “Saya tahu bahwa saya mencintai pasangan saya dan s/he is the one, tapi kadang saya merindukan debar-debar ketegangan saat mengejar seseorang.”

    Kualitas pernikahan. Ketidakpuasan dalam pernikahan, baik secara emosional, intelektual, sosial ataupun fisik biologis, juga menjadi faktor resiko selingkuh. Peselingkuh kadang mencari pembenaran (yang tidal benar) bahwa mereka tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan dalam pernikahan mereka dan ada orang lain yang mampu memberikan hal tersebut. Selingkuh sering kali terasa lebih indah karena peselingkuh hanya bertemu dengan selingkuhannya dalam waktu yang diinginkan, kondisi yang rapi dan wangi serta dalam kegiatan yang menyenangkan tanpa dipusingkan oleh berbagai cicilan dan berbagi tugas domestik.

    Kesempatan berselingkuh. Adanya selingkuhan potensial dan, yang tidak kalah penting, jaminan kerahasiaan perselingkuhan dari pasangan resmi adalah faktor pendorong selingkuh. Tentu saja, mereka yang berminat untuk selingkuh akan lebih mudah mendeteksi selingkuhan potensial. Mereka yang sangat berminat bahkan akan terus mencari kesempatan itu. Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang tinggal di kota besar cenderung untuk lebih mudah untuk berselingkuh karena di kota besar manusia cenderung lebih anonim (sehingga perilakunya tidak dihiraukan orang lain) dan anonoh (memiliki nilai-nilai yang tidak senonoh).

    Dunia modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi ternyata dapat membawa kita selangkah lagi mendekati selingkuh. Dalam dunia modern, manusia cenderung bertemu manusia lain dalam dua konteks: pekerjaan dan dunia maya. Karenanya, dua lokasi tersebut menjadi daerah rawan selingkuh. Perjalanan dari dan ke tempat kerja pun dapat menjadi kesempatan selingkuh sebagaimana fenomena peselingkuh yang berpacaran dalam perjalanan KRL Bogor-Jakarta. Selingkuh dengan rekan kerja konon biasanya diawali dengan saling curhat dan memberikan perhatian yang menimbulkan penghayatan, “Oh, dirimu sungguh mengerti aku. Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah kita.” Selain itu, pekerjaan yang jauh dari keluarga terkadang memberikan kesempatan yang lebih besar untuk selingkuh dengan lebih 'aman'. Karenanya, “kucing garong” begitu tiba di tempat kerja yang jauh dari keluarga biasanya langsung mengibarkan bendera status SOS, bukan save our soul tapi single on the site.

    Dunia maya juga memperlebar kesempatan selingkuh generasi 3.0. Google dapat membantu kita menemukan berbagai tips selingkuh yang kreatif, mudah, murah, dan konon aman. Facebook juga dapat membantu kita menemukan sang mantan yang telah lama hilang dan diam-diam masih kita rindukan. Kesenjangan sosial akibat perbedaan akses terhadap internet melahirkan fenomena yang dinamakan  “digital divide.” Dalam jagad perselingkuhan juga ada “Facebook divide.” Beberapa buaya darat (crocodilus daratensis sp.) yang pasangannya tidak mendapatkan akses ke Facebook kadang menulis statusnya mereka sebagai single atau memposting kalimat-kalimat, komentar-komentar, dan mantra-mantra yang mengundang. Teman saya yang bekerja di bidang manajemen bencana sering berkata: “Indonesia rawan bencana, waspadalah!” Kita pun perlu berkata: Dunia maya rawan selingkuh, waspadalah!”

    Lalu bagaimana kita mencegah selingkuh? Mengingat selingkuh adalah bencana asmara yang menghancurkan keluarga dan melukai pasangan dan anak, maka kita pun dapat belajar dari bidang manajemen bencana. Rumus dasar manajemen risiko bencana adalah Risiko Bencana = (Bahaya x Kerentanan) : Kapasitas.  Sebuah bencana (misalnya banjir) berisiko terjadi ketika bahaya (misalnya hujan deras) bertemu dengan kerentanan (misalnya got mampet) dan tidak diimbangi dengan kapasitas yang ada (misalnya rumah yang tinggi). Berdasarkan rumus tersebut, maka risiko selingkuh dapat dikurangi dengan mengurangi keterpaparan kita dari bahaya (misalnya ‘SMS mengundang’) dan kerentanan (misalnya nilai permisif untuk selingkuh) serta meningkatkan kapasitas pribadi dan kualitas pernikahan kita.

    Kita perlu waspada karena selingkuh sering kali datang dalam langkah-langkah kecil yang makin lama semakin akumulatif dan tanpa sadar membuat kita terpeleset, jatuh, terjerembab, terpuruk, dan sulit bangkit kembali. Selingkuh bukanlah ‘SELINGan indah dan Keluarga utUH’ tapi ‘SELINGan yang bikin Keluarga runtUH.” Selain itu, berdasarkan prinsip Keadilan Sosial, selingkuh tidak dapat dibenarkan. Di saat masih banyak rekan-rekan kita kesulitan mencari satuuu pasangan aja, perselingkuhan orang yang sudah berpasangan adalah sebuah pelecehan terhadap kejombloan mereka. Akhirnya, kita perlu mengingat bahwa menjadi setia tidak hanya berarti menyayangi pasangan kita, tapi juga menghargai diri kita sendiri. Salam Setia! ***

    ditulis oleh: Ibnu Munzir
    Mimin Web

    Diakah Pasangan Hidupku ?

    Gambar: google.com
    Menarik sekali, dalam Bahasa Indonesia, kata ”suami atau istri ”juga disebut dengan ”pasangan atau teman hidup.” Hal ini mengisyaratkan bahwa suami atau istri diharapkan dapat menjadi menjadi pasangan atau teman seumur hidup dalam segala sisi kehidupan. Pilihan terhadap pasangan pun diharapkan menjadi pilihan sekali seumur hidup. Karenanya, pertanyaan "Apa yang membuat kita mantap memilih seseorang sebagai pasangan kita?” menarik dan penting untuk kita diskusikan. Bukankah sering kita mendengar ungkapan "I have one but I'm not sure that s/he is the one?" Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang menikah dan pernikahannya berjalan dengan baik cenderung lebih bahagia dibanding mereka yang melajang. Sebaliknya, pasangan yang pernikahannya tidak berjalan dengan baik cenderung lebih menderita disbanding mereka yang melajang. Jadi, kualitas pernikahan dan bukannya status pernikahan itu sendiri yang lebih mempengaruhi kebahagiaan seseorang (Seligman, 2002).

    Dua tahun lalu, ketika saya baru menikah, seorang teman kuliah bertanya apa yang membuat saya mantap memutuskan untuk memilih pasangan hidup saya. Pertanyaan tersebut saya lempar kembali ke mailing-list angkatan kami sembari berjanji untuk merangkumnya. Tulisan ini merupakan ringkasan dari tanggapan teman-teman saya yang begitu kaya dan beragam.

    Rasanya cocok aja ….
    Sebagian besar teman mengatakan bahwa mereka memilih pasangan mereka karena mereka merasa “pas atau cocok” dengan pasangannya. Kecocokan tersebut dapat dianalisa dari kesesuaian kepribadian, nilai, keluarga, serta pendapatan dan penampilan. (Hmmm, adakah di antara mereka yang memberikan baterai tes psikologi pada pasangannya?) Kecocokan tersebut juga dapat muncul dalam rasa nyaman saat bersama calon pasangan karena kita merasa dia dapat menerima kekurangan, kekonyolan, dan “kedodolan” kita. Bersama mereka kita tetap dapat merasa bebas menjadi diri kita sendiri, tidak takut kehilangan jati diri meskipun pasangan kita mungkin adalah orang yang sangat berbeda dengan diri kita.

    Tidak sekedar merasa diterima, beberapa teman juga menyatakan bahwa mereka memilih pasangan mereka karena pasangan mereka mampu melihat potensi mereka dan mampu membantu mereka untuk berkembang, untuk menjadi lebih baik. Tidak hanya dalam prestasi duniawi, beberapa teman memilih pasangannya karena mereka yakin calon pasangannya dapat mendukung mereka untuk memiliki kehidupan spiritual yang lebih baik. Di sisi lain, seorang teman juga memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan calon-calonnya karena menurutnya mereka tidak memberikan cukup ruang bagi dirinya untuk menjadi “a fully functioning person”, tidak sekedar tersekat dalam ruang peran tradisional suami atau istri.

    Akukah pasangan hidupnya?”
    Hubungan pernikahan adalah hubungan timbal balik. Seorang teman menekankan bahwa kita tidak hanya cukup bertanya, “Bisakah dia menerima dan membantu diriku berkembang?” tapi juga “Bisakah aku menerima dan membantu dirinya untuk berkembang?” dalam derajat yang sama pentingnya. Hal ini mengingatkan pada pentingnya kesiapan psikologis sebagai prasyarat pernikahan. Menurut Bapak Rudolf Matindas (2006), seorang psikolog ibukota, kesiapan psikologis di antaranya mencakup kemampuan untuk mengenali kebutuhan pribadi dan kebutuhan pasangan. Kebutuhan ini dapat berupa kebutuhan sebagai seorang pribadi (individu) maupun kebutuhan yang ingin dipenuhi dalam pernikahan baik kebutuhan biologis, material atau psikologis. Kebutuhan psikologis dapat berupa kebutuhan ditemani, disayangi, dilindungi atau bahkan kebutuhan untuk mengatur orang lain. Kecocokan dapat berupa kemampuan untuk saling memenuhi kebutuhan tersebut. Di sisi lain, ketidakmampuan untuk saling memenuhi kebutuhan dapat menjadi sumber konflik berkepanjangan. Sayangnya, tidak ada orang yang dapat sepenuhnya memahami dan memenuhi kebutuhan orang lain (bahkan memahami dan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri pun). Karenanya, menurut Bapak Matindas, kemauan dan kemampuan untuk berdialog, bernegoisasi, dan berkompromi termasuk dalam kesiapan psikologis yang mutlak adanya.

    “Bagaimana kita bisa tahu cocok atau tidak?”
    Bagi sebagian teman, kecocokan adalah sebuah penghayatan yang tidak mudah dijelaskan secara operasional, kongkrit, dan mendetil. Lalu, bagaimanakah mereka dapat mengenalinya? Sebagian besar teman menyatakan bahwa “Tanyalah hatimu, engkau akan tahu jawabannya.” Beberapa teman menyatakan bahwa rasa kecocokan itu tumbuh dan semakin kuat seiring dengan perjalanan hubungan mereka. Keyakinan itu menular. Karenanya, keyakinan (atau rayuan) salah satu pasangan bahwa mereka adalah pasangan yang tercipta sehidup semati sering mampu meneguhkan pasangan yang lain. Akan tetapi, kadang suara itu terdengar sayup-sayup sampai: bukannya tidak ada, tapi juga tidak terlalu kuat sehingga patut dipertanyakan. Selain itu, manusia juga tidak akan pernah bisa mengumpulkan semua informasi yang dibutuhkan dalam membuat keputusan, selalu ada ketidakpastian dan kemungkinan munculnya “kejutan”. Sebagian teman pun bertanya dan meminta peneguhan kepada Tuhan, “Diakah orangnya? Jika benar adanya, berilah kami kemudahan untuk bersatu.” Menarik untuk ditanyakan adakah diantara teman-teman alumni psikologi yang menjalani konseling pranikah untuk memantapkan keputusannya?

    Antara Keputusan dan Pernikahan
    Membuat keputusan bahwa seseorang adalah pasangan yang tepat dan menjalankan keputusan tersebut dengan menikahinya adalah dua hal yang berbeda. Bagi sebagian orang bahkan mungkin tidak berhubungan. Bukankah ada yang akhirnya tidak menikah ketika dua sejoli tersebut merasa bahwa mereka cocok secocok-cocoknya. Sebaliknya, bukankah banyak yang tetap menikah meskipun mereka merasa bahwa mereka tidak cocok. Seorang teman menyatakan bahwa untuk mewujudkan keputusan (kognitif dan emosional) menjadi kenyataan yang nyata dibutuhkan iman dan keberanian (baca: kenekatan).

    Yang tidak terungkapkan tapi patut dipertimbangkan adalah kemungkinan faktor biologis sosial budaya yang membuat seseorang memutuskan segera menikah meski sebetulnya dia belum merasa bertemu dengan Mister atau Miss Right. Mungkinkah “jam” yang mulai berdetak (atau lebih tepatnya didetakkan oleh significant others di sekitar kita) sejak usia tertentu dan pertanyaan “Giliranmu kapan?” membuat seseorang merubah pertanyaan tentang calon pasangan dari “Siapa kamu?” atau “Siapa aku?” menjadi  pernyataan “Siapa saja!”  

    Oh ya, dari tadi kita belum bicara tentang cinta. Dimanakah dirimu Cinta? Teman-teman yang sudah menikah umumnya menyatakan bahwa “love is necessary but not sufficient”,cinta perlu adanya untuk memulai pernikahan tapi tidak saja tidak cukup untuk menghidupkan pernikahan. National Geographic Pebruari 2006 membahas penelitian yang menunjukkan bahwa otak orang yang jatuh cinta romantis (atau eros, untuk membedakannya dengan jenis-jenis cinta lainnya) menghasilkan neurotransmitter yang juga dihasilkan oleh orang yang mengalami gangguan obsesif kompulsif (obsessive compulsive disorders). Orang yang mengalami obsesif kompulsif akan memikirkan (obsesi) atau melakukan (kompulsi) sesuatu yang tidak masuk akal secara terus menerus meski mereka sebetulnya terganggu dengan perilaku tersebut. Contohnya adalah orang yang selalu berpikir bahwa dirinya kotor sehingga terus menerus membasuh tangannya.

    Nah, sampai tataran tertentu, jatuh cinta memang memiliki obsesi dan kompulsi sendiri. Eros memasok listrik yang begitu besar bagi prosesor otak kita untuk terus memikirkan dia yang tercinta. Eros juga memberi kekuatan luar biasa untuk melakukan hal yang luar binasa. Eros mampu meng-iya-kan segala tidak dan men-tidak-kan segala iya. Sayangnya, menurut National Geographic, neurotransmiter ini hanya bertahan selama beberapa tahun. Setelah itu, pecinta dan yang tercinta akan mulai kembali menjadi “manusia biasa” dengan segala ke-manusia-annya: aura merah jambu mulai berkurang dan kelakuan pasangan mulai menyebalkan. Mengutip Albert Camus, seorang penulis eksistensialis, jika cinta saja cukup maka segalanya akan terlalu mudah.

    Seorang sahabat memberikan penjelasan yang menarik mengenai cinta dan pernikahan. Kata “love”, atau cinta dalam Bahasa Inggris, dapat berarti kata kerja (verb)  dan kata benda (noun). Nah, yang sering terjadi adalah love diterima sebagai kata benda yang akan bertahan selamanya padahal waktu berjalan, manusia (baca: suami dan istri) pun berubah. Dengan berbagai perubahan yang terjadi, sangat mungkin pasangan kembali saling mempertanyakan, "Diakah pasangan hidupku?" Karenanya, menurut sahabat saya, love perlu diperjuangkan seumur hidup sebagai tindakan aktif agar dapat terus tumbuh, matang, dan menghasilkan buah seiring dengan pertumbuhan dan kematangan pasangan.

    Daftar Pustaka:
    Matindas, R.W. (2006) Dinamika perkawinan beda agama. Makalah dipresentasikan pada Psychology Expo di Jakarta.

    Seligman, M. E.P. (2002). Authentic Happiness: Using the new Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfillment.  NY: Barnes & Noble.

    Slater, L. (February 2006). Love. National Geographic pp. 32-49.

    ditulis oleh : ibnu Munzir 
    Mimin Web

    1001 Cerita di L-300

    Gambar: google.com
    Mitsubishi L300 adalah kendaraan populer untuk bepergian dari satu kabupaten ke kabupaten lain di Aceh. Minibus ini terdiri dari empat baris kursi dan berkapasitas 10 penumpang. Kendaraan ini dipilih penumpang karena memberikan layanan door to door,menjemput dari pintu rumah dan mengantarkan hingga pintu tujuan. Dalam satu bulan, saya bisa bepergian hingga tiga minggu ke berbagai kabupaten di Aceh dan L300 adalah pilihan utama saya. L300 ternyata menghantarkan 1001 kisah. Berikut ini adalah sebagian diantaranya.

    L300 itu kendaraan paling nyaman & produktif
    Sebagai birokrat lembaga bantuan internasional, saya sudah merasakan beragam kendaraan lapangan dari Innova, berbagai sport utility vehicles (SUVs)Land Cruiser hingga Prado. Akan tetapi, saya relatif sulit tidur dalam perjalanan panjang bersama mereka. Kadang saya malah pusing dan mual ketika menaikinya. Entah mengapa, saya justru lebih mudah tidur di  L300 bahkan ketika dulu saya menempuh perjalanan Banda Aceh-Calang melalui jalan berbatu pasca tsunami.

    Tidak hanya tempat tidur yang nyaman, L300 juga menjadi tempat produktif untuk membaca. Dalam 5 jam perjalanan Banda Aceh-Bireun, saya biasanya menamatkan satu buku yang kemudian akan bertambah satu lagi dalam tiga jam perjalanan Bireun-Takengon. Saya bisa membaca lebih dari 100 buku selama tahun lalu dan sebagian di antaranya sata tamatkan dalam ratusan jam perjalanan di L300. Begitu nyaman dan produktifnya saya di L300 membuat saya bercita-cita jika suatu hari saya, insyaAllah, menjadi country director lembaga internasional maka saya akan meminta agar L300 menjadi kendaraan resmi kantor kami.

    L300 juga bisa jadi tempat yang romantis
    Perjalanan dalam L300 dapat berlangsung berjam-jam sehingga ia memberikan kesempatan panjang untuk bertukar cerita dengan penumpang di sebelah. Entah sudah berapa puluh orang menemukan pasangan di L300. Tanyakan kepada sopir dan kenek berapa penumpang yang telah berhasil mereka jerat. Pemandangan sepanjang perjalanan juga dapat menimbulkan perasaan syahdu. Bayangan anda menempuh perjalanan panjang sambil menatap sawah hijau yang membentang luas hingga kaki gunung ketika senja dan gerimis turun di luar sana. Ah, perasaan kita bisa tersesat di sana. Konon, tipe hujan menghadirkan kenangan berbeda-beda bagi penumpang L300: ada hujan deras yang mengingatkan dengan keluarga di rumah, ada gerimis yang menghadirkan kembali masa lalu, rinai di kala senja membawa rindu yang tak kunjung sampai, dan seterusnya. Agar lebih dapat mendapatkan penghayatan yang hiperralis saya senang membaca buku puisi di L300 sehingga Rendra, Sapardi, hingga Djoko Pinurbo telah menemani saya menikmati pemandangan di luar sana. Rasanya mewah betul!

    Lagu Kebangsaan L300
    Salah satu unsur pembangun suasana di L300 adalah lagu yang diputar oleh pengemudi. Sopir L300 bisa menempuh 8 jam perjalanan dari Takengon ke Banda Aceh atau bahkan 12 jam dari Aceh Tamiang ke Banda Aceh. Untuk membantu tetap terjaga dalam kendaraan yang melaju kencang di gelapnya malam, mereka pun memutar musik keras-keras. Salah satu penyanyi yang paling digemari di L300 adalah mendiang Poppy Merkuri. Apa pun trayek yang anda ambil, lagu kebangsaannya tetap Antara Jakarta dan Penang.Tentu saja dalam keheningan malam, lagu yang paling syahdu adalah Demi kau dan si buah hati. Dalam perjalanan-perjalanan itu, saya sering berharap bahwa kendaraan yang melesat cepat itu memutar musik rock keras. Akan tetapi, harapan tersebut tinggallah mimpi. Pernah suatu malam L300 yang saya naiki dari Calang memutar November rain-nya GnRSayangnya, belum lagi lagu itu selesai, sang sopir sudah menggantinya dengan lagu Wali Band!

    Omong-omong tentang Wali. Cerita paling lucu di L300 yang saya tahu berhubungan dengan Wali. Suatu hari pada bulan Oktober 2008, mobil L300 yang menjemput penumpang di pusat kota Banda Aceh terjebak macet. Seorang penumpang muda bertanya kepada sopir, “Kenapa bisa macet sekali?” “Ada Wali di Masjid Raya” jawab sang sopir. “Sejak kapan band boleh konser di halaman Masjid Raya?!”, protes si penumpang. Penumpang lain pun gemas dan berkata, “Wali Nanggroe hai!”

    Belajar Empati di L300
    Salah satu alasan utama saya memilih L300 dibanding kendaraan kantor adalah untuk mempersingkat waktu kunjungan ke lapangan. Sebagaimana lembaga internasional lain, kendaraan kantor kami untuk dilarang bepergian setelah gelap. Untuk mempersingkat waktu kunjungan, saya memilih bepergian dengan L300 sehingga saya bisa langsung pulang ke Banda Aceh setelah acara di kabupaten selesai pada sore hari. Suatu malam, sopir yang membawa kami dari Kuala Simpang mengemudikan kendaraan dengan lambat. Di tengah perjalanan, mobil kemudian rusak. Saya ingin marah tapi saya perhatikan sopir tersebut begitu tua. Beliau tampak berusia sekitar 60 tahun, sopir L300 tertua yang pernah saya jumpai. Saat menunggu L300 pengganti, penumpang lain yang mengenalnya bercerita bahwa istri bapak tersebut lumpuh bertahun-tahun akibat stroke dan beliau harus terus mencari uang untuk biaya keluarganya. Informasi baru tersebut mengganti kemarahan saya dengan rasa kasihan. Hingga beberapa hari setelah itu, saya terus berdoa semoga bapak tersebut diberi kekuatan. L300 ternyata juga dapat menjadi sekolah untuk belajar empati.

    Tempat Terindah dan Seragam di L300
    Deretan bangku kedua, di belakang sopir, memiliki ruang lebih luas sehingga kaki kita sedikit lebih nyaman. Karenanya, bangku samping jendela deretan kedua adalah tempat terindah di L300. Bangku ini menjadi tempat favorit saya karena saya juga takut duduk di bangku depan di kendaraan yang melaju sangat kencang dan memiliki tingkat kecelakaan yang lumayan ini. Saya juga enggan duduk di bangku belakang karena terasa pengap dan penuh barang-barang. Duduk di sebelah jendela juga dapat mengurangi pengap akibat asap rokok.

    Akhirnya, naik L300 menjadi ritual tersendiri bagi saya. Setelah menjadi anggota L300frequent flyer, saya akhirnya memilih seragam khusus saat naik L300: celana jeans, kaos almamater, dan sepatu gunung. Jadi, jika anda berada di Aceh dan melihat seorang lelaki memakai sepatu gunung, jeans, dan kaos biru gelap bertuliskan Penn State serta duduk di bangku samping jendela deretan kedua L300 sambil membaca buku maka itulah saya dan harap jangan ganggu saya. Saya sedang menikmati L300 moment! ***

    Penulis : Ibnu Munzir 

    Mimin Web

    Cara Menghitung dengan Calculator Cinta

    gadget ramalan cinta online siap pakai
    Contoh Tampilannya
    Hallo sobat Blogger semuanya... Kami mau kasih tahu cara menghitung cinta dengan Kalculator Cinta (Love Calculator) untuk menghitung persen (%) cinta kamu dengan si-Dia. Cara kerja Love Calculator ini berbeda dengan cara kerja Ramalan Jodoh, dimana kalau ramalan jodoh, Kamu harus memasukan nama kamu dan nama Si-Dia serta tanggal lahir kamu dan Dia. Tapi Love Calculator ini, sangat mudah dan simpel, dimana kamu hanya memasukkan nama Kamu dan Si-Dia.